November 12, 2008

Agus R. Sarjono Poet

Fake Poem


Goodmorning sir, goodmorning madame said the students
with a fake greeting. They studied
fake history from fake textbooks. Having finished their studies
they were dumbfounded at the mass of fake marks.
Since their school grades weren’t good enough
they went to their teachers houses to present them
with envelopes full of comments and fake respect.
With fake smiles and making fake rejections
their teachers finally accepted the envelopes with the fake promise
to change the fake marks for new fake marks. Many schooldays
later they became fake economists, fake lawyers,
fake farmers, fake engineers.
Some of them became fake teachers, scientists
or artists. They plunged eagerly
into the middle of fake development
with fake economy as fake leaders. They witnessed the hectic
fake trade with fake export and fake import
which provided various goods of fake quality.
And fake banks full enthusiasm offered fake bonuses
and fake gifts, but at the same time with fake permits
and fake letters secretly asked for loans
from the national bank, run by fake high officials.
The public did business with fake money
supported by fake foreign exchange.
Therefore the foreign currencies, stimulated by fake rates
caused everybody to panic and end in a crisis
which made the fake government
crash into a fake fate. And fake people
cried out their fake joy and discussed
fake ideas during fake seminars and talk shows
welcomed loudly the start of a democracy
fluttering
and fake.

1998

translation by Linde Voƻte



Sajak Palsu

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai,
maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah
bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop
berisi perhatian dan rasa hormat palsu.
Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan
tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru
terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan
palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan ramainya
perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat
menawarkan bonus dan hadiah-hadiah palsu
tapi diam-diam meminjam juga pinjaman
dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin
devisa palsu. Maka uang-uang asing
menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu
ke dalam nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar
begitu nyaring
dan palsu.

1998


0 comments: